Ditelpon Bupati Faida, Tak Bisa Tidur

image_pdfsave PDFimage_printPrint this

M Rokhim Affandi, pemain beck kanan Tim Persija Jakarta ini sungguh tidak menduga bahwa dia bakal mendapat telepon dari Bupati Jember dr Hj Faida, MMR.

Saking takjub  dan herannya, dia berkali – kali dalam wawancara dengan wartawan mengaku belum bisa berpikir dan belum bisa meyakini bahwa apa yang terjadi dengannya itu adalah fakta, bukan mimpi.

“Saya seperti bermimpi saja Mas. Saya bicara asyik tanpa beban dan bercengkerama mirip saat bicara laiknya orangtua sendiri. Padahal kan beliau itu Bupati. Tidak kenal saya. Kenapa mau mengenal saya,” tuturnya kalem.

“Kenapa harus berpikiran begitu ?,” tanya wartawan.

“Saya sampai gak bisa tidur semalaman, sejak mendapat telepon dari Bupati Faida,” akunya lagi.

Mata Rokhim pun langsung berkaca – kaca. Air yang keluar dari sudut bola matanya tak tertahan. Diapun memulai perlahan perjalanan hidupnya sebelum akhirnya ditarik Tim Persija Jakarta, langsung melalui Gede Widiade.

“Memang hal apa dalam hidup Anda ?” tanya wartawan lagi.

“Gak apa apa tah Mas, saya ceritakan . Saya malu, nanti dikira apa ?” sergahnya.

Setelah mendapat penjelasan bahwa cerita hidupnya harus diungkap, karena akan dijadikan inspirasi sekaligus semangat bagi pemuda Jember lain untuk tidak mudah putus asa dan segera bangkit  memiliki tekad kuat mengangkat derajat orangtua, keluarga dan daerahnya.

Jarum jam sudah menunjukkan posisi lewat 10 menit. Semua diam. Sunyi sesaat, termasuk ayah dan ibunya tak mampu berkata saat menemani anaknya bicara di hadapan wartawan.

Lalu,”Gak apa apa nak. Ceritakan saja, agar ceritamu bisa dijadikan pelajaran dan hikmah bagi anak anak muda selain kamu untuk berjuang,” ujar ayahnya, menyergah.

Rokhim pun terperanjat dan menghela nafas dalam – dalam. “Ya udah, Pak,” tuturnya.

Dia pun memulai cerita masa kecilnya di tengah himpitan ekonomi keluarganya. Di usia 5 tahun dia sudah membantu ayah dan ibunya jualan jeruk dan buruh di sawah.

Menginjak usia SD, sekira 7 tahun sepulang sekolah menjadi kuli panggul kayu di rumah tetangganya hingga lulus. Di sore hari kala selepas salat ashar, dia selalu berangkat ke lapangan main bola.

Di usia SMP bakat bolanya sudah muncul. Di kala itulah ujian terberatnya. Dia harus memutuskan tidak melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya.

Bertubi – tubi kejadian dialami keluarganya karena membutuhkan biaya. Kakaknya nomor dua meninggal dunia karena kecelakaan, jatuh dari atas pohon jambu. Tak lama kemudian kakaknya butuh biaya karena pendaftaran SMA. Dia pun memilih Drop Out dari SMP, posisi kelas VII karena tidak ada biaya.

Dia pun memilih bekerja mencari tambahan uang untuk bertahan hidup keluarganya yang mendiami rumah berdinding  anyaman bambu itu, membantu kedua orangtuanya.

Tahun berikutnya, ibunya sakit setelah melahirkan anak ke – 4 yang dinyatakan meninggal dunia. Tahun selanjutnya juga demikian di proses persalinan adik no -5 juga dinyatakan meninggal dunia.

Belum surut duka himpitan kebutuhan ekonomi terus menjerat. Rokhim yang belajar bola di Indonesia Muda (IM) Tanggul ini, sejak saat itulah bertekad memilih sepakbola menjadi alat perjuangannya mengangkat derajat orangtuanya.

“Ndilalah,” , dia ditarik klub Jember United (JU) tahun 2013. Tahun 2014 berhasil menjuarai Piala Suratin dan mendapat penghargaan dari Pemerintah Daerah Jember.

Akan tetapi itu pun belum menjawab kesulitan ekonomi keluarganya. Dia masih harus bekerja menjadi kuli panggul kayu, sorenya jualan pentol bakso. Uang hasil jerih payahnya selalu diberikan kepada ibunya untuk kebutuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.